Hubungan Keluarga dengan Industrialisasi

Hampir di pastikan tidak ada satu pun ruang gerak dan aspek kehidupan masyarakat yang terhindar dari dampak industrialisasi dan arus globalisasi. Keluarga sebagai unsur terpenting dalam masyarakat juga tidak terlepas dari dampak yang diakibatkan dari adanya industrialisasi.




 
 nih Keluarga nih..

Tema besar mengenai keluarga dalam studi sosiologis menurut Mihael haralambos dan Martin Holborn adalah hubungan antara struktur keluarga dan proses industrialisasi. Industrialisasi tersebut menunjukan pada produksi barang secara masal dalam sebuah sisitem pabrik yang melibatkan beberapa tingkat dari teknologi industri yang telah di mekanisasikan (sociology, Themes and perspektives, 1995).
Berkenaan dengan hubungan antara keluarga dengan industrialisasi tadi baik di negara berkembang maupun negara maju, yang sering terjadi adalah dampak dari industrialisasi tersebut terhadap perubahan sikap dan prilaku keluarga.
Menurut Ronalt Lippit yang dikutip oleh Merril & Elliot bahwa pendorong bagi perubahan keluarga adalah: berkembangnya kebudayaan materi, tingkat penemuan dan inovasi teknologi, perbaiakan fasilitas transportasi dan komunikasi dan meluasnya industrialisasi dan urbanisasi.
 Dengan adanya perubahan-perubahan ini, masalah-masalah yang paling umum yang kita jumpai adalah terjadinya perkembangan-perkembangan dalam masyarakat, yang salah satunya adalah perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Konsekwensi dari perubahan-perubahan ini selanjutnya adalah pengaruh terhadap organisasi keluarga yakni perubahan dari extended family menjadi nuclear family.
Ada 3 alasan yang menyebabkan perubahan tersebut:
Industrialisasi menyebabkan nuclear family menjadi lebih bersifat mobile. Mudah berpindah dari suatu tempat ketempat lain. 

    Keluarga tidak lagi terikat oleh sebidang tanah untuk penghidupannya, melainkan mereka akan berpindah ketempat dimana ada pekerjaan. Mobilitas keluarga ini akan memperlemah ikatan kekerabatan dalam ekstended family. Hal ini dapat dicontohkan pada masyarakat kamanhilir kabupaten agam kota bukit tinggi yang pada awalnya masyarakat ini bermata pencaharian sebagai petani yaitu mengolah tanah sawah, namun karena sektor pertanian ini dianggap semakin kurang dalam penyerapan tenaga kerja maka mereka beralih ke industri kerupuk ubi. Industri ini dianggap  lebih dapat menyerap banyak tenaga kerja, dan juga dapat mengoptimalkan peran wanita dalam proses produksi, sehingga para kaum wanita juga dapat membantu pemasukan penghasilan keluarga. Produksi kerupuk ubi juga menyerap tenaga dari desa lain disekitar desa kamanhilir yang menyebabkan mereka melakukan mobilisasi, walaupun dalam hal ini perpindahan tidak berlangsung dalam kurun waktu yang lama.
Urbanisasi masyarakat dari desa ke kota juga merupakan bentuk mobilitas anggota keluarga yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan. Suatu kondisi desa yang menunjukkan kecilnya lapangan pekerjaan, membuat unsur penarik urbanisasi dari desa ke kota. Mereka yang berpindah dari kampung halaman tentunya akan memperlemah ikatan diantara anggota lain.
Masyarakat industrialisasi yang dicirikan dengan spesialisasi pekerjaan/ keahlian membuat satu keluarga tidak hidup dalam satu atap rumah. Misalkan sebuah keluarga di daerah yogyakarta yang memiliki 3 orang anak. Anak pertama berprofesi sebagai tentara yang mana ditempatkan di NTT, anak kedua berprofesi sebagai dosen Universitas Airlangga Surabaya, dan anak ketiga berprofesi sebagai dokter yang ditempatkan di daerah Aceh. Ketiga anaknya tersebut memiliki keluarga didaerahnya masing- masing. Karena profesi yang dimilikinya tadi, mereka terpisah dan menharuskan mereka jarang berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

      Industrialisasi dapat mempercepat emansipasi wanita 

Hal itu dikarenakan ada kemungkinkan wanita untuk mendapatkan pekerjaan diluar rumah tangga. Emansipasi ini menyebabkan lemahnya fungsi-fungsi extended family satu pihak dan memperkuat fungsi nuclear family di pihak lain.
Dalam artikel kami yang berjudul “Peranan wanita dalam industry kerajinan rumah tanggu batu onix” dan  jurnal yang berjudul “Pekerja wanita pada industry rumah tangga sandang dan kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga kecamatan sukun malang”, dapat kita lihat bahwa wanita telah mengalami  emansipasi. Kaum wanita yang dulu hanya memiliki peranan mengurusi urusan rumah tangga(Menyapu, mencuci, mengurus anak) kini setelah memasuki masyarakat industry, memiliki fungsi yang berbeda. Setelah terjadi proses industrialisasi memberikan dampak yang signifikan pada peran wanita. Hal ini dapat dilihat dari pekerja pabrik tekstil, rokok, garment, industry kerajinan batu onik dan lainnya didominasi oleh kaum wanita yang dianggap telaten dan ulet dibanding laki- laki. Walau telah memasuki masa emansipasinya, wanita disini masih dibedakan dengan kaum laki-laki dalam hal pengupahan. Rata- rata upah wanita di kebanyakan pabrik masih rendah dibandingkan pekerja laki- laki.
Selain alih fungsi peran wanita yang bekerja dipabrik diatas,  




 Kalo ini namanya ruang kerja industri

wanita juga telah mampu berhimpun dan membentuk industry rumah tangga. Industry rumah tangga yang dijalankan sekelompok kaum perempuan tersebut telah mampu memberi kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga. Industrialisasi sangat nyata pengaruhnya terhadap emansipasi wanita yang memberikan ruang gerak pada kaum wanita untuk berperan lebih banyak dalam kehidupan rumah tangga. Dengan bekerja, seorang wanita tentu telah mendapat kebebasan tertentu yang belum ia dapatkan sebelum adanya emansipasi. Ia tidak lagi terikat pada segala macam pekerjaan rumah tangganya dan mengurus anaknya. Penambahan fungsi wanita dalam keluarga ini tidak hanya memberi dampak positif bagi penambahan pendapatan keluarga, namun juga berdampak negative yaitu berkurangnya peran wanita dalam keluarga yang mengakibatkan sejumlah masalah, baik itu mengenai pekerjaan rumah tangga maupun proses tumbuh kembang anak yang kyrang mendapat perhatian dari orang tuanya.

   Industrialisasi telah menimbulkan corak kehidupan ekonomi baru dalam masyarakat. 

  Ada perubahan besar yang dibawa industri terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Dalam artikel yang berjudul “Anak Jakarta Dikepung Rokok” dan “78 Persen Kepala Gakin Perkotaan Umumnya Perokok”, dapat dianalisis bahwa industrialisasi yang terjadi pada pabrik-pabrik rokok telah mampu mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat. Dahulu industri rokok hanya berbasis rumahan dan kelompok saja. Jenis rokok yang adapun masih sangat terbatas belum sevariatif sekarang.
Industri rokok yang semakin maju telah membawa pengaruh pada pengeluaran ekonomi keluarga. Keluarga miskin mengeluarkan uang untuk rokok 22% lebih tinggi dari pengeluaran untuk membeli beras sebesar 19%. Semakin besarnya konsumsi keluarga miskin terhadap rokok tentunya tidak terlepas dari majunya industri rokok yang ada di Indonesia. Selain itu dalam artikel kami yang berjudul “dunia anak dan globalisasi” terlihat jelas bagaimana industrialisasi sangat berpengaruh pada seoarang anak yaitu pada tingkat konsumerisme seoarng anak terhadap suatu barang yang di iklankan. Iklan yang tidak hanya sebagai media namun juga saat ini diindustrialisasikan yang berperan besar dalam tingkat konsumerisme seorang anak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa industrialisasi telah menimbulkan corak kehidupan ekonomi yang baru, dalam hal ini adalah pengeluaran rumah tangga yang berubah akibat pengaruh industri yang semakin maju.

original created Crewetsbit.blogspot.com

0 komentar:

Komen Gratis Kaga Bayar. Masih aja ga Komen?

Sebarin ahh..